Nasabah Bijak, Penyuluh Digital, BRI

“ting…ting…”

Notifikasi yang menandai pesan masuk terdengar nyaring. Saya pun segera meraih ponsel.

Sebuah pesan singkat melalui Whatsapp membuat kening saya berkerut. Nomor pengirim pesan singkat tidak tersimpan di kontak saya. Pengirimnya menggunakan foto profil logo BRI.

Diawali dengan sapaan formal tanpa menyebutkan nama, di dalam pesan tersebut diunggah sebuah surat yang tampak resmi dengan kop surat dan logo BRI berisi pemberitahuan perubahan biaya transaksi dari Rp.6.500,- menjadi Rp. 150.000,- per bulan.

Ketika saya iseng merespon, si pengirim lantas mengirimkan link atau tautan  web formulir untuk aktivasi ulang tarif transaksi. Keisengan saya pun berlanjut, saya penasaran dengan tautan yang dikirim. Ketika tautan dibuka, muncul sebuah laman yang sepintas seperti laman website BRI.

Laman ini meminta nomor handphone untuk mengecek perubahan tarif. Setelah itu terlihat pilihan tarif biaya administrasi. Jika sudah memilih, kemudian muncul kolom-kolom untuk memasukkan username dan juga password aplikasi mobile banking. Hmm…hmmm, sampai di sini saya tak tertarik lagi untuk meneruskan keisengan ini.

Sungguh beruntung saya sudah follow akun IG resmi BRI. Jadi, saya tahu pasti bahwa informasi perubahan tarif biaya administrasi BRI itu adalah informasi HOAX! Dan ini termasuk dalam kategori kejahatan siber!

nasabah digital, penyuluh digital

Apa yang Dimaksud Kejahatan Siber?

Kejahatan siber atau cyber crime adalah berbagai bentuk kejahatan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi berbasis teknologi komputer maupun telekomunikasi yang merugikan banyak pihak. Kejahatan ini tidak pandang bulu, bisa terjadi setiap saat dan bisa menimpa siapapun. Saya, kalian atau orang-orang terdekat kalian!

Kejahatan siber bisa dilakukan oleh pelaku tunggal atau sekelompok orang yang tentunya memiliki keahlian dalam penggunaan komputer dan peralatan komunikasi. Tentu saja model baru kejahatan ini muncul seiring berkembangnya teknologi informasi. Contohnya saja penipuan kartu kredit, penipuan identitas, pemalsuan cek hingga perdagangan konten pornografi anak.

Kejahatan siber telah menjadi isu penting di sektor jasa keuangan dan perbankan. Dilansir dari Cnbcindonesia.com, jumlah serangan siber cukup tinggi di sektor jasa keuangan dan perbankan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri tercatat di sepanjang tahun 2017 hingga 2020, ada 16.845 laporan kejahatan siber yang terkait perbankan yang masuk ke Ditipidsiber Polri (Direktorat Tindak Pidana siber Kepolisian Republik Indonesia).

Nah, salah satu tindak kejahatan siber di sektor jasa keuangan dan perbankan yang sedang marak saat ini adalah jenis kejahatan siber social engineering atau dikenal dengan istilah soceng.

penyuluh digital

Waspada Soceng, Begal Rekening yang Incar Nasabah Bank

Sosial engineering atau soceng adalah kejahatan siber yang dilakukan dengan cara manipulasi atau mengelabui psikologis korbannya. Pelaku sosial engineering atau soceng akan menggunakan berbagai cara agar calon korbannya merasa senang atau panik sehingga tanpa sadar mengikuti instruksi atau menjawab tanpa sadar. Tujuannya tak lain untuk memperoleh informasi tertentu, baik informasi data pribadi atau akses yang diinginkan secara halus lewat telepon atau berbicara langsung.

Data dan informasi pribadi yang berhasil diperoleh, nantinya dipakai untuk mengambil alih akun, mencuri semua dana yang tersimpan di rekening dan juga menyalahgunakan data yang didapat untuk kejahatan. Karena begitu kejam dan tega menguras bersih isi rekening korbannya, pelaku kejahatan ini sampai-sampai disebut sebagai begal rekening! Duh…serem!

Apa Saja Modus Soceng yang Marak Terjadi?

Kalian punya rekening bank ‘kan? Setiap orang yang punya rekening bank, wajib mewaspadai kejahatan social engineering.  Sebab meskipun terus diberantas, begal rekening ini masih terus saja bermunculan dan menimbulkan banyak korban. Menurut catatan yang dihimpun Otoritas Jasa Keamanan (OJK), setidaknya ada 4 modus soceng yang perlu diwaspadai.

Informasi Hoax Tentang Perubahan Tarif Transfer Bank

Modus inilah yang saya alami. Pelaku soceng yang berkedok sebagai pegawai BRI menyampaikan informasi melalui pesan Whatsapp tentang perubahan tarif transfer bank kepada nasabah. Pelaku meminta calon korbannya untuk mengisi link formulir dengan data pribadi seperti username, password, PIN dan kode OTP yang digunakan untuk mengakses rekening bank.

Jika saja saya terjebak penipuan ini dengan memberikan username, password, PIN dan kode OTP akun rekening bank, maka sudah pasti saldo rekening bank bakal terkuras!

nasabah bijak BRI

Penawaran untuk Menjadi Nasabah Prioritas

Siapa sih yang tak tergiur menjadi nasabah prioritas? Seperti namanya, nasabah prioritas akan mendapatkan prioritas dalam pelayanan dan segudang keuntungan lainnya. Keadaan inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku soceng.

Mereka menawarkan kemudahan upgrade menjadi nasabah prioritas dengan iming-iming hadiah, promosi dan juga potongan harga. Untuk keperluan upgrade ke nasabah prioritas ini, pelaku soceng akan meminta data pribadi seperti nomor kartu ATM, nomor CVV/CVC, PIN, OTP dan juga password.

Akun Media Sosial Palsu

Ada banyak akun media sosial palsu yang menggunakan nama sebuah bank, contohnya saja di Instagram. Saya telah membuktikannya! Ketika saya follow akun resmi BRI, maka sesaat kemudian beberapa akun segera mengirimkan pesan melalui fasilitas Direct Message. Akun yang mengirimkan pesan, sepintas mirip dengan akun resmi BRI. Namun jika diperhatikan, akun-akun ini tidak memiliki follower dan mempunyai username yang aneh. Adapun pesan yang dikirim berisikan link menuju nomer Whatsapp CS Bank BRI gadungan. Tentu saja, pesan-pesan seperti ini WAJIB diabaikan! 

nasabah bijak

Penawaran Jadi Agen Laku Pandai

Pernah dengar istilah Laku Pandai? Laku Pandai merupakan singkatan dari Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif. Ini adalah program OJK untuk penyediaan layanan perbankan atau layanan keuangan lain lewat kerjasama dengan agen bank dan didukung pula dengan sarana teknologi informasi.

Keberadaan program ini rupanya dimanfaatkan oleh para pelaku soceng. Mereka menawarkan jasa untuk menjadi agen Laku Pandai tanpa perlu persyaratan yang rumit. Sebagai gantinya, mereka meminta calon korbannya untuk mentransfer sejumlah uang untuk pembayaran mesin EDC (Electronik Data Capture).

Nasabah Bijak Wajib Tahu! Tips Hindari Jebakan Soceng Alias Begal Rekening

Jika sudah mengenali modus-modus soceng, kalian juga wajib mengetahui tips untuk menghindari jebakan soceng. Bukan tanpa alasan, social engineering alias soceng ini kian meresahkan!

Orang-orang tua dan nasabah bank yang kurang mendapat edukasi sering menjadi sasaran begal rekening ini. Karena itu jika kalian tak ingin menjadi salah satu korbannya, sebaiknya ketahui tips menghindari jebakan soceng.

Jangan lupa untuk menyebarkan tips ini kepada orang-orang terdekat agar mereka pun terhindar dari penipuan soceng.

Nasabah Bijak Pasti Rahasiakan Data Pribadi

Data pribadi menjadi aset yang sangat berharga di era teknologi informasi sekarang ini. Data pribadi wajib dijaga kerahasiaannya untuk mencegah penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini artinya, kalian tidak boleh membagikan data pribadi kepada siapapun termasuk kepada pegawai bank, teman, bahkan anggota keluarga terdekat sekalipun.

Untuk nasabah bank, data pribadi yang wajib dirahasiakan meliputi username dan password aplikasi banking, username dan password email, PIN (Personal Identification Number), kode OTP (One Time Password), MPIN (Mobile Personal Identification Number), nomer CVV/ CVC kartu kredit dan kartu debit, nomor kartu ATM atau kartu debit atau kartu kredit, nama ibu kandung dan informasi pribadi lainnya.

Stop! Jangan Posting Data Pribadi di Medsos

Beberapa waktu yang lalu, sebagian pengguna Instagram mengunggah data pribadi ke dalam Instastory. Mungkin niatnya hanya sekedar untuk lucu-lucuan saja. Foto KTP diunggah untuk menunjukkan foto mereka yang cupu di KTP. Ada pula yang mengunggah Kartu Keluarga hanya demi memamerkan nama-nama anggota keluarga yang unik. Padahal ini sangat berbahaya lho! Data pribadi yang kalian unggah di media sosial bisa saja digunakan orang lain untuk kepentingan yang tidak baik.

Kenali Akun Layanan Bank di Media Sosial

Sebagai nasabah yang baik, pastikan kalian mengenali akun-akun media sosial bank, memiliki nomer telepon atau call centernya, email dan juga alamat website resmi bank. Dengan cara ini, kalian akan terhindar dari jebakan para pelaku social engineering yang mengaku-ngaku sebagai pihak bank.

Selain terhindar dari jebakan para begal rekening, mengenali kontak resmi bank juga memberi manfaat lainnya lho. Jika suatu saat nanti mengalami masalah yang berkaitan dengan aktivitas perbankan, kalian bisa meminta bantuan melalui kontak resmi tersebut. 

Jangan lupa, follow juga akun media social bank kalian. Dengan cara ini, kalian akan selalu update informasi terbaru. Termasuk  klarifikasi informasi hoax yang beredar. 

BRI

Jadi Nasabah Bijak, Yuk Aktifkan SMS dan Email Notifikasi

Layanan perbankan seperti BRI, menyediakan fitur SMS atau email notifikasi. Layanan perbankan ini berupa pemberitahuan otomatis agar nasabah bisa segera mengetahui setiap transaksi yang terjadi, baik debit maupun kredit. Dengan mengaktifkan fitur ini, kalian sebagai nasabah bisa mengontrol setiap transaksi yang terjadi pada rekening. Termasuk jika ada transaksi yang mencurigakan, kalian bisa langsung mengetahuinya.

Untuk mengaktifkan fitur notifikasi SMS atau email notifikasi ini, caranya cukup mudah kok. Kalian hanya perlu mendaftarkan kontak pribadi yakni nomor telepon aktif atau email aktif melalui ATM, kantor bank, internet banking, mobile banking atau kanal digital lainnya.

Jangan Sembarangan Mengklik Link

Pernah menerima pesan singkat melalui SMS atau Whatsapp yang berisi link atau tautan? Jika kalian tak yakin dari siapa pesan berisi link atau tautan tersebut berasal, sebaiknya jangan klik link yang diberikan. Lebih-lebih lagi, jika link menunjukkan alamat yang tak jelas.

Link jebakan seperti itu adalah salah satu bentuk kejahatan siber yang disebut phising. Kejahatan siber ini bertujuan memancing orang untuk memberikan data pribadi tanpa disadari. Metode phising pula yang digunakan pelaku kejahatan siber pada modus informasi hoax tentang perubahan tarif transfer bank BRI. Selanjutnya data pribadi yang diperoleh seperti username dan password mobile banking, kode OTP serta PIN digunakan untuk tujuan kejahatan. Contohnya saja menguras saldo rekening bank.

Gerakan Nasabah Bijak dan Penyuluh Digital

Nah, sampai di sini tentu kalian sudah semakin paham dan mengenali kejahatan siber yang mengincar nasabah bank ‘kan?

Literasi tentang modus-modus penipuan perbankan sangat dibutuhkan mengingat  saat ini semua serba online, mulai dari belanja beragam kebutuhan, bayar tagihan listrik dan air, bayar PBB, bayar tagihan BPJS dan sederet keperluan lainnya. Kencangnya inovasi teknologi yang memicu penggunaan transaksi digital dan cashless adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari lagi. Iya ‘kan?

Sayangnya, inovasi teknologi ini juga membuat semakin maraknya penipuan dengan modus SocEng (Social Engineering). Keadaan semakin runyam jika para nasabah bank minim literasi tentang modus-modus penipuan perbankan yang akhirnya menyebabkan banyak nasabah bank jadi korban penipuan.

Kondisi inilah yang kemudian melahirkan gerakan #NasabahBijak. Gerakan yang digagas oleh BRI ini hadir untuk memberikan edukasi tentang literasi keuangan seputar cara mengelola uang, melunasi hutang, informasi tentang suku bunga, asuransi, tabungan pensiun, pajak, beragam produk keuangan contohnya saja kredit dan pinjaman serta menyampaikan edukasi mengenai kejahatan siber di sektor perbankan dan cara untuk mencegahnya.

Selain gerakan Nasabah Bijak, BRI juga sedang mengembangkan penyuluh digital atau digital advisor. Penyuluh digital punya 3 tugas yang sangat penting!

♥ Mengajak atau mengajari mereka yang belum melek layanan perbankan digital. Tujuannya supaya mereka lebih digital savvy, misalnya saja bisa membuka rekening secara digital.

♥ Mengajari nasabah untuk melakukan transaksi secara digital yang semakin sering digunakan saat ini.

♥ Mensosialisasikan dan mengajari cara untuk mengamankan rekening bank dari incaran kejahatan-kejahatan siber.

Nah, gerakan Nasabah Bijak dan penyuluh digital yang dikembangkan BRI ini pas banget untuk membantu mereka yang masih minim pengetahuan tentang layanan perbankan digital dan mewaspadai bahaya yang mengintai.

Saya dan kalian juga bisa lho ambil bagian dalam gerakan Nasabah Bijak ini dan jadi penyuluh digital. Yuk kita mulai dengan menyebarkan edukasi seputar literasi keuangan kepada orang-orang yang terdekat yakni anggota keluarga dan teman-teman!

 

Referensi: 
Instagram Nasabah Bijak
Instagram Bank BRI
Instagram OJK Indonesia
Cnbcindonesia.com

Blog ini menjadi tempat saya berbagi informasi seputar keterampilan wanita, gaya hidup, fashion, pengalaman pribadi dan hal-hal menarik lainnya. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung.

Puji Lestari